Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal

Apa perbedaan antara waris, hibah dan wasiat?

Ada pertanyaan yang biasa muncul seperti ini. Ada orang tua yang sudah membagi-bagi harta yang ia miliki kepada anak-anaknya sebelum ia meninggal dunia, apakah itu termasuk dalam waris, hibah ataukah wasiat?

Jika orang tua membagi-bagi harta kepada anak-anaknya ketika ia hidup, maka statusnya adalah sebagai hibah. Ada beberapa point penting yang perlu diingatkan tentang masalah hibah ini:

  • Anak-anak dibagi hibah ketika masa hidup orang tuanya, bukan setelah matinya.
  • Jika baru dimiliki setelah orang tua meninggal dunia, statusnya bukanlah hibah.
  • Tidak dipersyaratkan dalam pembagian hibah mesti sama, tidak mesti juga pembagiannya mengikuti pembagian dalam hukum waris. Terserah bagi orang tua untuk membagi hibah tadi, yang jelas harus dengan adil.

Continue reading “Ortu Membagi Harta Waris Sebelum Meninggal”

Prioritas dalam Penyaluran Harta Peninggalan Si Mayit

Sebagian orang kadang terburu-buru untuk menuntut dibaginya harta warisan. Padahal si ayah yang meninggal dunia masih memiliki kewajiban lain yang mesti diprioritaskan seperti utang dan wasiat. Penjelasan berikut berisi keterangan mengenai manakah penyaluran harta peninggalan si mayit yang mesti didahulukan, tidak langsung pada pembagian waris.

Urutan prioritas penyaluran harta peninggalan si mayit adalah sebagai berikut.

Pertama: Pengurusan jenazah si mayit

Hal ini meliputi memandikan, mengkafani, memakamkan si mayit dan semacamnya tanpa berlebih-lebihan dan tidak terlalu pelit. Pengurusan jenazah ini lebih didahulukan daripada utang dan lainnya. Karena pengurusan jenazah ibarat pakaian yang menjadi kebutuhan primer bagi seseorang yang hidup dan tidak bisa dicopot dengan alasan untuk melunasi utang. Continue reading “Prioritas dalam Penyaluran Harta Peninggalan Si Mayit”

Panduan Ringkas Ilmu Waris

Ilmu waris adalah ilmu yang sangat sedikit sekali dipelajari untuk saat ini. Dalam hadits marfu’ disebutkan, “Wahai Abu Hurairah, pelajarilah ilmu faroidh (ilmu waris) dan ajarkanlah karena ilmu tersebut adalah separuh ilmu dan saat ini telah dilupakan. Ilmu warislah yang akan terangkat pertama kali dari umatku.” (HR. Ibnu Majah, Ad Daruquthni, Al Hakim, Al Baihaqi. Hadits ini dho’if). Namun sudah menunjukkan kemuliaan ilmu waris karena Allah Ta’ala telah merinci dalam Al Qur’an mengenai hitungan warisan. Dan Allah yang memberikan hukum seadil-adilnya. Beda dengan anggapan sebagian orang yang menganggap hukum Allah itu tidak adil karena suuzhonnya pada Sang Kholiq.

Pada kesempatan kali ini, kami hanya menghadirkan secara ringkas mengenai perihal waris. Tidak seperti biasanya kami berkutat dengan banyak dalil. Kami buat panduan waris kali ini dengan begitu sederhana yang banyak merujuk dari kitab fikih Syafi’i Matan Ghoyah wat Taqrib (Matan Abi Syuja’). Dalam tulisan kali ini, kami pun menyampaikan contoh-contoh sederhana mengenai masalah waris. Semoga bermanfaat. Continue reading “Panduan Ringkas Ilmu Waris”

Khutbah Jumat: Tujuh Kemudahan di Bulan Ramadhan

Kalau kita perhatikan, syariat Islam itu mudah, banyak kita temukan dalam syariat puasa.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ

وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ وَأَفْضَلُ الهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ r وَشَرَّ الأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ َوكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِى النَّارِ

Para Jamaah shalat Jumat yang semoga senantiasa dirahmati oleh Allah Ta’ala … Continue reading “Khutbah Jumat: Tujuh Kemudahan di Bulan Ramadhan”

Memahami dan Menampilkan Tanggal dan Waktu Pada PHP

Pada kesempatan kali ini kita akan membahas cara menampilkan tanggal dan waktu pada PHP, baik menggunakan procedural style maupun Object Oriented Programming Style.

Pada PHP, terdapat berbagai cara untuk menampilkan tanggal dan waktu, yang paling mudah dan umum digunakan adalah menggunakan fungsi date() (procedural style).

I. Menampilkan Tanggal dan Waktu Pada PHP – Menggunakan Fungsi Date

Pada prinsipnya, fungsi date() akan menampilkan tanggal dan waktu sesuai dengan format yang di definisikan. Format penulisannya adalah: Continue reading “Memahami dan Menampilkan Tanggal dan Waktu Pada PHP”

Manhajus Salikin: Tayamum dengan Debu

Kali ini kita lihat lagi bahasan tayamum, mengenai tayamum dengan debu, melanjutkan perkataan Syaikh As-Sa’di dalam kitab fikihnya Manhajus Salikin.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

Maka turab (debu) yang digunakan untuk menggantikan air.

Mengenal Sha’id yang Suci

Perlu diketahui bahwa para ulama sepakat bahwa bolehnya tayamum adalah dengan menggunakan sha’id yang suci. Demikian dipersyaratkan oleh jumhur (mayoritas ulama), sedangkan ulama Malikiyah memasukannya dalam wajib tayamum. Dalil harus menggunakan sha’id adalah firman Allah Ta’ala,

فَتَيَمَّمُوا صَعِيدَاً طَيِّبَاً

Lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan sha’id yang baik (suci).” (QS. Al Maidah: 6). (Al-Mawsu’ah Al-Fiqhiyyah, 14:260) Continue reading “Manhajus Salikin: Tayamum dengan Debu”

Manhajus Salikin: Cara Tayamum

Bagaimana cara tayamum? Berikut penjelasan praktis dari Syaikh As-Sa’di dalam Manhajus Salikin.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

Kemudian membaca bismillah, kemudian menepuk debu dengan telapak tangan satu kali, lalu mengusap seluruh muka, dan seluruh telapak tangan. Jika menepuk dua kali tidaklah masalah.

Dalil Cara Tayamum

Dalil dari Al-Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,

وَإنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أو على سَفَرٍ أو جَاءَ أحَدٌ مِنْكُمْ من الغَائطِ أو لامَسْتُم النِّسَاءَ فلمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدَاً طَيِّبَاً فَامْسَحُوا بِوجُوهِكُمْ وَأيْديكمْ إنَّ اللَّهَ كَانَ عَفوَّاً غَفورَاً

Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); usaplah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pema’af lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa’: 43) Continue reading “Manhajus Salikin: Cara Tayamum”

Manhajus Salikin: Sebab Boleh Tayamum

Kitab Ath-Thaharah (Bersuci), Bab Tayamum

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah berkata:

Tayamum itu pengganti (badal) dari bersuci dengan air jika ada uzur (halangan) menggunakan air untuk anggota tubuh yang mestinya disucikan atau sebagiannya, bisa jadi (1) karena tidak ada air atau (2) khawatir ada bahaya karena menggunakan air.

 Sebab Boleh Tayamum

Ada sebab utama yang membolehkan tayamum yaitu: (1) karena tidak mendapati air; (2) khawatir menggunakan air.

Secara lebih lengkap sebab yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Tidak ada air yaitu tidak ditemukan atau sumber air begitu jauh.
  2. Jika memiliki luka atau penyakit dan khawatir menggunakan air.
  3. Jika air sangat dingin dan sulit dipanaskan.
  4. Jika air diperlukan untuk minum dan khawatir kehausan. (Taisir Al-Fiqh, hlm. 140)

Dalil bolehnya tayamum karena tidak mendapati air sudah diisyaratkan dalam ayat,

فلمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدَاً طَيِّبَاً

Kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci) …” (QS. An-Nisa’: 43) Continue reading “Manhajus Salikin: Sebab Boleh Tayamum”

Manhajus Salikin: Larangan bagi yang Berhadats Kecil

Ada larangan-larangan bagi yang berhadats kecil. Hadats adalah dalam keadaan tidak suci.

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullahberkata:

Siapa saja yang mendapati hadats ashghar (hadats kecil), maka dilarang baginya: (1) shalat, (2) thawaf keliling Ka’bah, (3) menyentuh mushaf.

 

Dilarang Shalat dan Thawaf bagi yang Berhadats

Dalil yang menunjukkan bahwa shalat tidak diterima dalam keadaan berhadats.

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ وَلاَ صَدَقَةٌ مِنْ غُلُولٍ

Tidaklah diterima shalat tanpa bersuci, tidak pula sedekah dari ghulul (harta haram).” (HR. Muslim, no. 224).

Adapun thawaf dipersyaratkan suci dari hadats, disebutkan dalam hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,

الطَّوَافُ حَوْلَ الْبَيْتِ مِثْلُ الصَّلاَةِ إِلاَّ أَنَّكُمْ تَتَكَلَّمُونَ فِيهِ فَمَنْ تَكَلَّمَ فِيهِ فَلاَ يَتَكَلَّمَنَّ إِلاَّ بِخَيْرٍ

Thawaf mengelilingi Ka’bah seperti shalat. Namun dalam thawaf kalian boleh berbicara. Barangsiapa yang berbicara ketika thawaf hendaklah ia berbicara dengan perkataan yang baik.” (HR. Tirmidzi, no. 960. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Continue reading “Manhajus Salikin: Larangan bagi yang Berhadats Kecil”

Lima Perusak Amal di Bulan Ramadhan

Lima hal ini patut dihindari ketika kita menjalankan puasa di Bulan Ramadhan. Inilah hal-hal perusak di bulan Ramadhan.

Perusak #01: Tanpa ilmu

 

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

اَنَّ العَامِلَ بِلَا عِلْمٍ كَالسَّائِرِ بِلاَ دَلِيْلٍ وَمَعْلُوْمٌ اَنَّ عَطَبَ مِثْلِ هَذَا اَقْرَبُ مِنْ سَلاَمَتِهِ وَاِنْ قُدِّرَ سَلاَمَتُهُ اِتِّفَاقًا نَادِرًا فَهُوَ غَيْرُ مَحْمُوْدٍ بَلْ مَذْمُوْمٌ عِنْدَ العُقَلاَءِ

“Orang yang beramal tanpa ilmu bagai orang yang berjalan tanpa ada penuntun. Sudah dimaklumi bahwa orang yang rusak karena berjalan tanpa penuntun tadi akan mendapatkan kesulitan dan sulit bisa selamat. Taruhlah ia bisa selamat, namun itu jarang. Menurut orang yang berakal, ia tetap saja tidak dipuji bahkan dapat celaan.”

Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkata,

مَنْ فَارَقَ الدَّلِيْل ضَلَّ السَّبِيْل وَلاَ دَلِيْلَ إِلاَّ بِمَا جَاءَ بِهِ الرَّسُوْل

“Siapa yang terpisah dari penuntun jalannya, maka tentu ia bisa tersesat. Tidak ada penuntun yang terbaik bagi kita selain dengan mengikuti ajaran Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.” (Lihat Miftah Dar As-Sa’adah, 1:299) 

Continue reading “Lima Perusak Amal di Bulan Ramadhan”